tautan komersil

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 April 2010

Anak sakit....aduuhh.....gimana nih.....???!!!


1. Gendonglah bayi dengan posisi kepala lebih tinggi dari badan, agar ia tidak tersedak.
2. Karena bayi susah diam, Anda bisa membungkus tangan dan tubuhnya dengan selimut agar tak mengganggu proses pemberian obat. Bila perlu, mintalah bantuan orang dewasa lain untuk memeganginya.
3. Bila bayi memuntahkan obat yang diberikan kepadanya, ulangi pemberian dengan meminta bantuan orang dewasa lain untuk membuka mulutnya dengan lembut.
4. Obat dalam bentuk cair bisa diberikan dengan bantuan sendok atau pipet.
5. Pemberian obat tetes untuk hidung, mata, dan telinga pada bayi juga perlu kiat khusus:

Obat tetes hidung:
Tengadahkan sedikit kepala bayi. Perlahan teteskan obat ke setiap lubang hidung.
Hitung jumlah tetesan yang masuk ke hidung. Dua atau tiga tetes biasanya sudah cukup.

Obat tetes mata:
Miringkan sedikit kepala bayi, hingga mata terinfeksi berada di bawah. Dengan cara ini tetesan obat tak mengalir masuk ke mata sehat.
Perlahan tariklah kelopak mata bawah agar obat dapat mudah mengalir.

Obat tetes telinga:
Baringkan bayi pada salah satu sisi dengan lubang telinga terinfeksi berada di atas. Teteskan obat ke dalam lubang telinga yang sakit.
Buat bayi tetap diam agar obat benar-benar masuk ke lubang telinga bagian dalam.

Sebelum obat tetes tersebut diberikan, ada baiknya hal-hal berikut ini diperhatikan:
1. Rendam obat tetes dengan posisi tegak dalam tabung berisi air suam-suam kuku selama beberapa menit, agar ketika diteteskan dan masuk ke lubang hidung atau telinga, anak tidak terlalu kaget.
2. Jangan sentuhkan obat tetes ke hidung, telinga, atau mata, agar bakteri tidak berpindah ke dalam botol obat.
3. Perhatikan batas waktu pemakaian obat itu. Obat kadaluwarsa akan memperburuk peradangan atau kondisi
bayi yang diobati.

Memberikan obat pada anak-anak
Ketika bayi Anda sudah sedikit lebih besar, pemberian obat bisa jadi masih menjadi masalah. Berikut trik yang bisa Anda lakukan:
1. Mintalah anak menutup lubang hidung saat meminum obat agar rasa obat tak terlalu keras.
2. Campurlah obat, terutama yang berupa tablet, dengan sirup atau madu agar tak terasa pahit.
3. Jangan larutkan obat dengan air di gelas karena ada kemungkinan obat mengendap dan tak terminum si anak.
4. Mintalah anak untuk menggosok gigi setelah meminum obat yang manis agar tidak menempel di gigi.

Jumat, 02 April 2010

Pentingnya Bayi Bersendawa Usai Menyusui


Jakarta, Menyusui bayi untuk pertama kalinya merupakan suatu pengalaman yang menyenangkan, seru atau menakutkan bagi seseorang yang baru menjadi orangtua. Tapi kenapa setelah menyusui bayi harus bersendawa?

Sendawa pada bayi merupakan suatu hal yang penting, karena dengan bersendawa bisa membantu mengeluarkan udara yang terikut masuk ke perut bayi saat menyusui. Jika bayi tidak bersendawa setelah menyusui maka udara yang masuk bisa menyebabkan bayi muntah, mudah tersedak dan pada beberapa bayi bisa menyebabkan kembung.

Gas di dalam perut bayi juga bisa menimbulkan kolik (sakit perut) yang menyebabkan bayi menangis terus menerus akibat rasa sakit dan membuat rasa tidak nyaman pada perut bayi. Sementara itu saat bayi menangis, secara tidak langusng gas akan masuk kembali ke dalam perut bayi yang semakin membuatnya tidak nyaman.

Ketika ingin membuat bayi bersendawa, cobalah untuk menepuk-nepuk lembut punggung bayi secara berulang dan untuk mencegah adanya cairan yang keluar cobalah untuk meletakkan alas dada atau handuk kecil di bawah dagu bayi atau di pundak ibu.

Jika bingung bagaimana memegang bayi agar bisa bersendawa, bisa ikuti metode berikut seperti dikutip dariKidshealth, Selasa (24/11/2009):

Ibu duduk dengan posisi tegak dan gendong bayi pada dada.
Letakkan dagu bayi pada bahu ibu dan pegang kepala sang bayi dengan satu tangan.
Tangan lainnya menepuk lembut punggung bayi secara berulang-ulang.
Jika bayi mulai rewel atau menangis saat sedang menyusui, maka hentikan sebentar. Buatlah bayi bersendawa lalu ganti posisi dan bisa menyusui kembali. Usahakan setiap bayi mengonsumsi 60 sampai 90 mililiter susu, bayi disendawakan agar tidak terlalu banyak gas yang masuk. Jika bayi cenderung mudah kembung maka cobalah untuk bersendawa setiap 5 menit menyusui.

Untuk bayi berusia 6 bulan pertama, cobalah menunggu bersendawa selama 10 sampai 15 menit sambil bayi tetap ditegakkan. Karena jika bayi tidak bersendawa maka memungkinkan susu yang telah diminum tadi keluar kembali (muntah).

Ketika bayi sudah semakin besar atau lebih dari 1 tahun, orangtua tidak perlu khawatir jika bayinya tidak bersendawa setelah menyusui. Karena ini berarti bayi telah bisa belajar untuk makan tanpa menelan udara yang berlebihan.

Vera Farah Bararah - detikHealth

Dampak Kista Pada Bunda Hamil


Kita kaum hawa pasti takut sekali bila didagnosis adanya kista. Biasanya dokter memberikan obat analgetik atau operasi sebagai tindakan. Lalu bagimana kalau kista itu muncul pada Bunda yang sedang hamil?

Menurut dr. Nugroho Kampono SpOG (K) dari Brawijaya Women & Children Hospital tidak semua kista harus dioperasi. Bila Bunda hamil usia 2-3 minggu dan ditemukan kista sebesar 3-4 cm mungkin itu hanya kista lutein. Kista lutein yaitu kista yang muncul karena indung telur yang bekerja keras untuk menghasilkan hormon supaya kehamilan kuat . Saat kehamilan memasuki usia 8-12 minggu di mana fungsi hormon mulai diambil alih oleh plasenta maka kista itu akan hilang dengan sendirinya. “Itu bukan tumor, itu hanyalah kista yang bersifat fungsional. Kalau fungsinya selesai dia akan hilang.” jelasnya.

Namun, ada juga kista neo plasma (tumbuhan baru) atau biasa disebut tumor jinak. Umumnya ukurannya sekitar 5-6 cm. Dengan ukuran begitu Bunda bisa tetap meneruskan kehamilan bersama kista dan dilakukan operasi setelah Bunda melahirkan. “Kalau dicaesar, bisa sekaligus mengambil kistanya” tuturnya.

Tapi ada kista yang harus diambil tindakan operasi di tengah kehamilan, namanya kista dermoit yaitu kista yang padat (berisi kelenjar, lemak, rambut). Kista dermoit meski ukurannya hanya 5-6 cm bisa menghalangi turunnya kepala bayi sehingga bayi tidak bisa lahir. Untuk kasus ini akan dilakukan orperasi dengan catatan usia kehamilan tidak lebih dan tidak kurang dari 16 minggu, karena pada usia ini fungsi hormon sudah diambil alih oleh plasenta.

Kista bisa berbahaya kalau ia pecah karena terdesak seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Kalau kista pecah akan membahayakan janin dan berujung pada kelahiran bayi premature. Untuk penyebabnya dr. Nugroho mengaku pihak medis belum menemukan apa penyebab pasti munculnya kista.

Tips :
Lakukan USG pada 12 minggu pertama kehamilan, selain untuk melihat keadaan janin juga untuk mendeteksi adakah kelainan yang muncul

Bahaya High Heels Saat Hamil...!!


Hampir semua perempuan rela melakukan apa saja untuk tampil cantik sempurna. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Salah satunya penggunaan sepatu hak tinggi atau lebih familiar disebut high heels. Sebagai perempuan tentu kita merasa lebih anggun memakainya, tapi kalau Bunda sedang hamil lebih baik urungkan dulu niat itu. Dr. Arju Anita, SpOG dari Rumah Sakit Jakarta Medical Center dan Hermina Depok menjelaskan larangan Bunda untuk memakai high heels bukan tanpa alasan.

Secara logika kita bisa lihat bahwa penggunaan sepatu jenis ini membutuhkan kemampuan untuk menjaga keseimbangan tubuh. Di saat tidak hamil mungkin Bunda bisa menggunakannya, tapi pada saat hamil bobot tubuh bertambah, otomatis akan semakin sulit. Nah penggunaan high heels ini bisa meningkatkan resiko terjatuh, yang efeknya bisa membahayakan janin.

Selain terjatuh, ada juga resiko lainnya yakni timbulnya varises. Varises mudah sekali muncul pada wanita hamil, terutama bila Bunda sedang mengandung anak kedua, ketiga dan seterusnya atau memang sudah memiliki varises sebelum hamil. perlu diketahui varises bukan hanya mengakibatkan pembuluh darah melebar, tetapi juga menimbulkan nyeri dan pegal pada penderitanya. “maka bila tungkai sering dipakai beraktivitas ibu hamil akan mudah letih dan sakit.” jelas dr. Anita. Jika gejala ini sudah terjadi segera hentikan penggunaan high heels dengan sepatu tanpa hak yang ringan dan lentur sehingga kaki lebih nyaman dan rileks.

Meski pada usia kehamilan muda wanita hamil masih boleh menggunakan high heels, tetapi dr. Anita, SpOG menyarankan, pada saat Bunda tahu bahwa Bunda hamil sebaiknya berhenti menggunakan sepatu hak tinggi. “Tapi kalau kebiasaan itu sulit dihentikan, usia kehamilan di bawah 4 bulan masih ditolerir.” ungkapnya.

Tapi, Bun ada baiknya ditahan dulu ya, tanpa high heels pun Bunda tetap bisa tampil anggun dan menarik juga, kok.

Tips :
- saat beristirahat, angkat kaki lebih tinggi dari dada
- hindari gerakan yang memberi tekanan pada perut, misalnya berjongkok

Rabu, 31 Maret 2010

Kiat Atasi Jerawat Selama Kehamilan : Plus 18 Tips Lawan Kulit Kusam


Dikirim oleh Evariny A. untuk Seputar Kehamilan Makan minum & gizi
viewed: 1706 , 1 today
Kata orang saat hamil setiap wanita akan terlihat bersinar, berseri-seri, dan yang pasti tambah cantik. Apa jadinya jika wajah Anda justru terlihat kusam dan berjerawat

Nadia sudah lama tak pernah mengalami masalah dengan jerawat. Padahal sewaktu ia ABG alias anak baru gede, wajah putihnyanya kerap dihinggapi jerawat. Setelah sekian lama mimpi buruk itu pergi dari hidupnya, kok disaat hamil anak pertama ini, presenter radio swasta di Jakarta ini kembali berhadapan dengan masalah jerawat. Bukankah orang bilang saat hamil wajah wanita akan terlihat bersinar?

Ternyata pendapat tersebut tidak seutuhnya benar. Dalam situs your-best-acne-treatment.com pun disebutkan bahwa setiap wanita hamil berbeda. Sebagian, yang sebelumnya memang langganan bermasalah dengan jerawat, saat hamil jerawatnya semakin memburuk, tapi sebagian lainnya justru mengalami kulit ‘berseri’ yang sehat. Terkait hal tersebut tidak dapat diprediksikan, siapa yang akan memiliki wajah berseri kala hamil, dan siapa yang akan berjerawat.

JERAWAT? JANGAN PANIK!

Apakah Anda tengah bermasalah dengan jerawat? Jangan panik. Anda tidak sendiri. Menurut Arlene Eisenberg, Heidi E. Murkoff, Sandee E. Hathaway, B.S.N, penulis puluhan buku kesehatan menyebutkan bahwa hal tersebut bisa saja terjadi diakibatkan perubahan hormonal. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, kulit bisa jadi lebih sensitif. Pendapat tersebut, seperti pula diamini oleh Dr. Judi Januadi Endjun, dokter spesialis obstetri dan ginekologi RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. ‘’Setiap wanita hamil mengalami perubahan hormonal dan fisik, termasuk kulit wajah. Perubahan tersebut antara lain menyebabkan kulit lebih sensitif sehingga bila terjadi iritasi sedikit bisa menimbulkan kerusakan pada kulit tersebut,’’ tuturnya.

PENGARUH HORMONAL

Memperkuat pendapat Dr. Judi, menurut dr. Vinia Ardiani Permata, Sp.KK, dokter spesialis kulit dan kelamin Brawijaya Women and Children Hospital Jakarta, masalah jerawat dalam kehamilan memang dapat saja disebabkan pengaruh hormonal. ‘’Jerawat normal terjadi pada wanita hamil. Kehamilan dapat memicu timbulnya jerawat atau memperparah jerawat yang sebelumnya sudah ada. Di sisi lain sebagian wanita dengan kulit yang cenderung berjerawat melaporkan jerawatnya tidak kambuh selama menjalani masa kehamilan,’’ katanya.

Dua faktor utama berperan pada timbulnya jerawat saat kehamilan adalah hormon androgen dan perubahan hidrasi (kandungan cairan di dalam tubuh). Peningkatan hormon androgen, yaitu progesteron selama kehamilan menyebabkan kelenjar sebasea di kulit menjadi lebih besar sehingga produksi kelenjar tersebut (materi berminyak=sebum) meningkat. Sebum yang berlebihan ini bercampur dengan sel kulit mati yang terkelupas di saluran folikel rambut dan menyebabkan sumbatan di pori kulit. ‘’Lingkungan seperti ini menyebabkan bakteri penyebab jerawat bermultiplikasi (berkembang biak) dengan cepat. Semua ini selanjutnya mengakibatkan terjadinya peradangan di kulit sehingga timbul jerawat,’’ terangnya. Selain itu, kandungan air di kulit, lanjutnya, dapat membantu keluarnya sebum melalui pori kulit. Selama kehamilan, hidrasi tubuh berkurang. Hal ini menyebabkan sebum semakin kental dan semakin sulit dikeluarkan melalui pori kulit. ‘’Jerawat selama kehamilan dapat ringan, sedang maupun berat, dan dapat terjadi kapanpun selama masa kehamilan. Selain di wajah, jerawat juga timbul di badan,’’ paparnya.

KONSUMSI VITAMIN B6

Ada pendapat bahwa untuk membantu mengatasi masalah jerawat seorang wanita hamil dapat mengkonsumsi vitamin B6, benarkah demikian? Menurut dr. Vinia, Vitamin B6 (Piridoxine) memang berperan penting pada sistem imun tubuh dan produksi antibodi. Selain itu, Piridoxine memiliki peran penting pada metabolisme gula, asam lemak dan protein. ‘’Defisiensi vitamin B6 dapat menghambat proses penyembuhan jerawat dan menyebabkan timbulnya jerawat,’’ ucapnya. Namun, perhatikanlah dosisnya. ‘’Dosis yang disarankan untuk mengatasi jerawat adalah sebanyak 50-100 mg, 3 x sehari,’’ tuturnya. Konsumsi vitamin B6 yang berlebih (2-6 gram secara akut, dan 500 mg secara kronik) dapat mengebabkan neuropati sensoris (baal atau hilang rasa) pada ekstremitas yang bersifat menetap atau hanya sementara.

Perlu dipahami pula, untuk memperoleh vitamin B6 Anda tidak perlu mengkonsusi vitamin khusus, pasalnya vitamin ini dapat dengan mudah diperoleh dari ragam makanan alami. ‘’Vitamin B6 dapat dijumpai pada kuning telur, ikan, daging, biki-bijian (jagung, gandum, beras, kacang), susu, unggas (ayam, itik), dan pisang,’’ ujar dr. Vania.

Tak hanya jerawat, sebagian wanita juga mengalami masalah flek pada kulit. ‘’Kadang-kadang ada ibu hamil yang mengeluhkan timbulnya flek berwarna coklat dengan ukuran yang bervariasi muncul di wajah dan leher. Ini disebut kloasma atau topeng kehamilan,’’ tutur Dr. Miriam Stoppard seorang dokter kandungan dan penulis sejumlah buku kehamilan. PG


KIAT MENJAGA KESEHATAN KULIT SELAMA KEHAMILANWanita adalah makhluk yang selalu ingin cantik. Jadi, kehamilan bukan halangan bagi Anda untuk tampil menawan. Nah inilah kiat memiliki kulit sehat berseri selama kehamilan dari seorang dermatologist, dr. Vinia Ardiani Permata, Sp.KK, dari Brawijaya Women and Children Hospital Jakarta.
Beberapa tips untuk meminimalkan jerawat selama kehamilan :

Wanita hamil harus membersihkan kulit untuk mempertahankan kondisi bebas minyak. Bersihkan wajah 2-3x sehari dengan menggunakan pembersih wajah yang lembut dan tidak mengandung minyak (oil-free mild cleanser). Basuh wajah dengan air hangat (lukewarm water), keringkan wajah dengan lembut, kemudian gunakan pelembab wajah yang bebas minyak (oil-free moisturizer).
Keringkan wajah dengan cara menepuk-nepuk, jangan mengeringkan dengan cara menggosok.
Saat membersihkan wajah, dapat menggunakan oil absorbing micro-fiber cloth untuk menyerap minyak dari wajah.
Jauhkan tangan dari jerawat atau hindari menyentuh jerawat. Bersihkan wajah dengan lembut untuk mencegah penyebaran bakteri penyebab jerawat ke bagian tubuh lain.
Olah raga secara teratur dapat meningkatkan sirkulasi aliran darah ke seluruh tubuh termasuk kulit sehingga dapat membantu kesehatan kulit.
Hindari mengeluarkan isi jerawat (memencet, menggaruk) yang dapat menyebabkan terjadinya skar akne (jaringan parut akibat jerawat).
Gunakan kosmetik yang berbahan dasar air, hindari kosmetik berbahan dasar minyak atau gunakan kosmetik yang bertuliskan ”noncomedogenic” atau ”nonacnegenic”. Jangan lupa untuk membersihkan make-up wajah sebelum tidur.
Mengkonsumsi buah segar dan sayuran.
Minum sekurang-kurangnya 6-8 gelas air sehari untuk mempertahankan hidrasi (kandungan air) tubuh dan kulit.
Jangan membersihkan wajah secara berlebihan, hal ini akan memicu produksi minyak.
Sebaiknya menggunakan sponge atau kapas sekali pakai saat mengunakan toner atau make-up.
Hal-hal yang sebaiknya dilakukan untuk menjaga agar kulit tetap sehat, tidak kusam dan tidak memiliki flek :

Gaya Hidup Sehat

Diet / pola makan yang teratur termasuk pemilihan menu / jenis makanan
Olah raga
Pemeriksaan kesehatan teratur
Istirahat yang cukup dan teratur
Tidak mengkonsumsi minuman keras, obat-obatan dan rokok
Kebersihan Kulit

Bersihkan kulit minimal 2-3 kali / hari: Mandi, cuci muka
Bersihkan make up yang digunakan
Gunakan air dingin / hangat untuk membasuh wajah
Gunakan sabun khusus untuk wajah
Hindari bahan-bahan yang mengiritasi kulit
Kelembaban Kulit

Gunakan pelembab wajah untuk mencegah terjadinya kehilangan air
Kegunaan pelembab : melembutkan dan menghaluskan wajah
Pilihlah moisturizer / pelembab yang sesuai dengan jenis kulit
Proteksi Kulit

Gunakan tabir surya setiap hari
Pilihlah tabir surya dengan daya proteksi yang lebar (SPF)
Sebaiknya hindari paparan sinar matahari langsung dari jam 8 pagi – 4 sore
Gunakan tabir surya minimal 30 menit sebelum beraktivitas di luar ruangan
Ulangi pemakaian tabir surya 3-4 jam sekali untuk mendapatkan proteksi yang optimal dari tabir surya
Jika wajah sudah terlanjur kusam dan terdapat flek, disarankan konsultasi kepada dokter spesialis kulit untuk menentukan tatalaksana yang tepat dan aman untuk wanita hamil.

sumber : parentsguide